
Negeri kita kaya akan sumber daya alam yang berlimpah. Namun, dibalik kekayaan itu, masih ada wilayah terpencil yang setiap harinya harus berjuang demi setetes air bersih.

Salah satunya adalah Kampung Sukapura, daerah kecil di pelosok yang hanya dihuni 27 Kepala Keluarga. Selama 30 tahun, mereka hidup dalam krisis air bersih yang tak kunjung usai.

Sumber air satu-satunya hanyalah kubangan kecil di tengah sawah. Sayangnya, air di kubangan itu kini semakin keruh dan terus menyusut, terutama saat musim kemarau, sehingga sangat sulit didapat.

Sebagian besar masyarakat bekerja sebagai buruh tani. Di saat kekeringan datang maka pekerjaan pun ikut terhenti. Kondisi ini membuat hidup mereka semakin sulit terutama dalam mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Untuk mendapatkan udara, warga harus bangun sejak pukul 02.00 dini hari. Semakin siang, air di kubangan sawah itu akan surut, dan yang tersisa hanyalah lumpur keruh.

Mereka mengantri bahkan dari subuh dini hari, bergantian mengisi ember dan jeriken. Jika terlambat datang, risiko tidak menjadi bagian yang sangat besar. Air yang mereka bawa itulah yang digunakan untuk minum, memasak, mencuci piring, mencuci baju, bahkan mandi.
“Kalau telat ambil air, bisa-bisa tidak kebagian,” cerita Ibu Siti, mewakili warga kampung.

Kadang-kadang mereka hanya bisa membawa dua sampai tiga ember air per hari, dan itu pun harus dibagi untuk seluruh kebutuhan keluarga.
Bayangkan, di saat kita masih tertidur di jam 2 pagi dini hari, mereka harus berjalan ke sawah dan mengantri demi bisa bertahan hidup. Di tengah segala keterbatasan, warga Kampung Sukapura tetap bergotong royong menjaga sumber air yang ada, meski jumlahnya tak pernah cukup.

Sahabat, yuk wujudkan sumur air bersih untuk mereka. Pahalanya mengalir seperti udara, bermanfaat di dunia hingga akhirat.

![]()
Belum ada Fundraiser